Siapa
mengenal dirinya , dia mengenal tuhannya.
Dalam baba ini penulis ingin mencoba mengajak kita untuk
berfikir dan menyadari tentang siapa diri kita sebenarnya, dan bagaimana
beranan diri kita untuk mengubah dunia yang kita miliki.
Tahukah kita, bahwa kita hanya
bagian kecil atau titik hitam dalam dunia ini, tetapi kitalah yang mampu
merubah dunia ini seperti apa yang kita mau. Jika kita menganggap bahwa kita
adalah bagian dari alam maka kita akan
terombang ambing olehnya dan hanya akan mengikuti arus yang ada. Tetapi jika
kita mamapu untuk menggenggam dunia atau
berfikir bahwa “dunia ada di tangan saya” maka kita akan mampu merubah dunia.
Sebenarnya jika kita pikirkan bahwa
apa yang terjadi pada hari ini sepertinya sama dengan apa yang terjadi kemarin
atau hal yang belum pernah kita lakukan sepertinya telah pernah kita lakukan,
dalam buku titik ba ini penulis mengutip pendapat dari Eckhart Tolle “
sadarilah secara mendalam bahwa momen saat ini adalah segala yang pernah anda
punya”. Proses perubahan pada diri manusia terjadi saat bayi lahir kedunia,
saat masih dalam kandungan sang ibu bayi merasa tak ingin keluar dari
kenyamanan dan kehangatan perut ibunya namun ketika sudah berada di dunia dan
merasakan kenikmatan di dunia ia malah tak ingin mengakhiri hidupnya.
Seleksi alam membuktikan bahwa suatu kunci keberhasilan dalam hidup manusia adalah ketika kita
memiliki perencanaan yang matang dan
terkonsep serta menjalankannya sesuai dengan aturan. Ketika kita
berjalan menuju suatu tempat tanpa kita pikirkan terlebih dahulu jalan mana
yang akan kita lewati dan dengan apa kita akan melewati jalan itu, maka niscaya
hanya kegagalan dan kesesatan yang akan kita dapatkan. Dalam buku ini penulis mengutip pendapat Carl Gustav Jung
bahwa “kesadaran adalah segalanya, sebab ia adalah kehidupan itu sendiri”.
Karena itu, kita tidak memulai bernalar dari alam semesta, tetapi dari diri sebagai satu kesatuan yang utuh,
dari pusat diri jiwa bergerak keluar, sebagai
bentuk pengembangan dirinya menuju alam fisik.
Seringkali kita tak sadar dengan apa yang kita lakukan dan apa yang ada dalam diri kita. Apa
yang kita lakukan setiap hari hanyalah sebuah kenyataan yang harus kita lewati
tanpa mengetahui makna yang tersirat dibalik setiap kejadian yang ada. Dalam
hidup ini kita kadang tak bersikap apa adanya, suatu realitas akan dikatakan
suatu realitas apabila kita mampu berpersepsi dengan suatu hal.
Hidup yang akan kita jalani adalah sebuah
pilihan yang harus kita ambil, bukan sebuah kepasrahan yang harus kita terima.
Dalam buku ini dijelaskan bahwa untuk dapat menjadi sesuatu yang kita
inginkan kita harus menempatkan diri
kita sesuai dengan tujuan kita.
Contohnya ketika kita ingin mendalami ilmu agama maka bersekolahlah di sebuah pesantren tetapi
apabila kita ingin mendalami ilmu pemerintahan
maka bersekolahlah pada jurusan yang sesuai. Karna pada dasarnya kita
akan mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan kita dari apa yang kita
pikirkan dan kita pahami disekitar kita.
Untuk melihat dan menilai sesuatu
kerapkali kita hanya melihat dari luarnya saja tanpa tahu isi yang sebenarnya.
Ini menandakan bahwa kesadaran yang kita miliki
sangat bergantung dengan apa yang kita lihat pertama kali. Kesadaran
memang sangat sulit untuk dibuktikan dan
diteliti, karena kesadaran yang diperlihatkan oleh setiap orang berbeda.
Kesadaran kerap kali di identikan dengan kemampuan kita untuk menafsirkan apa
yang kita lihat. Kesadaran merupakan hal yang unik dan bersifat subjektif
sehingga informasi apapun bersifat asimetris.
Kita adalah pusat dari jagat raya
ini. Dunia membebaskan kita untuk membuat
pilihan, pilihan yang pastinya akan memiliki sebuah konsekuensi yang harus kita tanggung. Kita adalah
pengatur dalam jagat raya ini, akan seperti
apa dunia ini tergantung dengan apa yang kita perbuat. Kita memiliki
peran di dunia ini, kita mampu memiliki tindakan-tindakan yang akan kita
lakukan, tetapi kita tak dapat memilih dari akibat-akibat yang akan terjadi. Yang
Pada dasarnya kita tak dapat menggenggam semua yang ada di dunia dengan
aturan-aturan yang kita buat. Biarkanlah setiap makhluk hidup yang lain memilki
kesempatan yang sama untuk mengatur kehidupannya. Untuk dapat menanggapi dunia
jadilah manusia yang tahu diri agar kita memiliki pilihan yang layak untuk
setiap masalah yaitu dengan mengubah apa
yang dapat diubah, menerima apa yang tidak dapat diubah dan memindahkan
diri dari hal-hal yang tidak dapat kita trima.
Untuk dapat mengetahui seberapa
besar peran kita di dunia, cobalah kita sadari apakah kita dikendalikan
lingkungan atau lingkungan yang kita kendalikan. Kadang kita terlalu egois
dalam hidup ini, kita seringkali tak mampu menempatkan diri kita karena
dipengaruhi oleh lingkungan hidup. Hanya karena terdesak kebutuhan ekonomi lalu
kita melakukan tindakan criminal, tanpa kita sadari bahwa masih banyak lapangan
pekerjaan yang tersedia ataupun kita mampu untuk menciptakan lapangan pekerjaan
sendiri yang bermanfaat tidak hanya untuk kita tetapi juga untuk orang lain.
Kita mampu mengendalikan dunia ini sesuai dengan apa yang kita kehendaki,
menjadi seseorang yang memiliki peran besar pada perubahan dunia dan memiliki
pengaruh serta kepedulian dalam hidup seseorang atau hanya menjadi penonton pasif
pada drama kehidupan di dunia. Semua itu berada pada pilihan hidup kita.
Dalam perjalanan hidupnya manusia
memiliki banyak pengalaman yang ia rasakan, sedih-senang, marah-bersabar,
keresahan, kekecewaan, semua itu ada karena sempitnya kita menilai ehidupan.
Kita hanya berfikir tentang apa yang terjadi dan kita rasakan sekarang. Kita
tidak menyadari dengan penyebab timbulnya apa yang kita rasakan dan hikmah atau kesempatan apa yang dapat
kita ambil dari masalah yang kita hadapi. Dalam buku ini penulis memberikan
analisa dari Sigmund freud yaitu, bahwa tingkat kesadaran yang dimiliki oleh
seseorang ibarat gunung es, kesadaran hanyalah bagian yang tampak dipermukaan
sedangkan bagian terbesarnya tersembunyi dilautan. Dalam pandangannya Frued
mengatakan bahwa kesadaran manusia terbelenggu oleh kejadian – kejadian
dimasa lalunya yang membuatnya tak
menyadari tentang dirinya sendiri.
Seseorang yang sukses bukanlah karna ia mendapatkan kesempatan tetapi ia mampu
membuat pilihan yang tepat dalam hidupnya. Ingatlah bahwa manusia memiliki hak
untuk bebas, bebas dalam segala hal tentang dirinya sendiri. Tidak ada orang
yang mampu menyakiti kita tanpa seijin kita dan kebahagiaan adalah sebuah
pilihan yang kita ambil. Kebahagiaan tidak tercipta dari orang lain maupun
benda-benda, semua itu hanya sebuah media semata tetapi yang memilih untuk kita
bahagia atau tidak adalah diri kita sendiri. Jangan pernah Tanya “seperti apa
aku ini” karena jawaban dari pertanyaan itu adalah dalam diri anda sendiri.
Dalam kenyataannya manusia kini tak
lebih baik dari binatang,manusia yang dikatakan makhluk yang sempurna dan
memiliki akal kini sama halnya dengan binatang dan bahkan kadangkala lebh hina.
Manusia diberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam fisik dan psikologisnya.
Pencapaian kesadaran yang terbaik dalam diri kita adalah ketika kita mampu
menjadikan pengalaman orang lain sebagai pendongkrak kesadaran kita mengenai
kehidupan. Ingat bahwa manusia adalah makhluk bebas, kita memiliki kemampuan untuk
menciptakan kesadaran diri dan semangat diri dari imajinasi yang kita bentuk
agar kita memiliki semangat untuk melangkah tertuju.
Kesadaran memberikan kita sebuah
kenyataan baru yang kadang kita tak menyangka bahwa seperti kenyataan yang
sebenarnya. ketika kita mampu menembus batas-batas pemikiran yang dangkal ke
dalam pemikiran yang lebih mendalam maka kita akan menemukan jawaban dari
setiap pertanyaan kita secara gamblang dan terbuka. Kekeliruan hawking tentang
pendapatnya mengenai black hole memberikan gambaran bahwa manusia secerdas dan
sejenius apapun tidak akan luput dari kesalahan. Hal ini menunjukan bahwa tidak
ada manusia yang sempurna, melainkan hanya ada manusia yang bijak yang mau
mengakui kekeliruannya dan memperbaikinya.
Kita sering mendengar perbedaan
antara otak kiri dan otak kanan , padahal keduanya merupakan hal yang saling
terkait dan saling melengkapi. Sebuah hasil pemikiran tidak dapat dikatakan
hanya dari hasil otak kanan saja atau otak kiri sja melainkak hasil kolaborasi
keduanya. Manusia kerap kali merasa dirinya menjadi sangat menderita ketika ia
sedang memiliki masalah yang sebenarnya masalah itu dapar terselesaikan jika
kita mampu menyadari dan berfikir luas tentang masalah tersebut. Penyelesaian
suatu masalah sangat bergantung dengan cara berfikir kita. Semakin luas
pemikiran kita akan suatu masalah maka semakin mudah pula untuk kita menghadapi
masalah tersebut. Permudahlah setiap masalah yang ada jangan pernah di
persulit.
Dalam buku ini penulis memaparkan
bahwa ketika kita enggan membuka diri dan menerima hal-hal yang benar maka
hanya kesesatan yang akan ia dapatkan.
Jangan pernah menganggap suatu hal itu salah hanya karna kita tak memahami akan
hal tersebut. Pada dasarnya manusia telah mengenal Tuhannya sejak ia pertama
kali hadir dalam dunia ini, namun untuk menemukan dan mempercayai Tuhannya
setiap manusi memilki caranya masing-masing.
Dunia ini hanyalah sebuah mimpi bagi
orang-orang yang memiliki kesadaran, hidup ini hanya sesaat dan kehidupan abadi
kita adalah setelah kematian. Sering kali orang menyamakan antara tidur dan
mati. Tidur merupakan simulasi dari sebuah kematian, kita sebenarnya telah
merasakan sebuah kematian, hanya saja ketika kita tertidur Tuhan mengembalikan
ruh kita saat kita terbangun sedangkah mati adalah kita Tuhan menahan ruh kita
hingga selamanya. Terdapat kontrofersi di kalangan ilmuan, ada yangberpendapat
bahwa tidur hanya pemborosan waktu kerja saja namun ada pula yang berpendapat
bahwa tidur sangat penting untuk tubuh agar kengembalikan setamina kita saat beraktifitas.
Terlepas dari kontrofersi tersebut tidur memang sebuah kebutuhan untuk manusia
tetapi berapa lama waktu kita untuk tidur itu terganggantung dari setiap
individu itu sendiri. Mimbicarakan masalah tidur kita tak akan terlepas dari
yang namanya mimpi, ada yang mengatakan mimpi hanyalah kembang tidur kita,
namun pada dasarnya mimpi yang muncul dalam tidur kita adalah sebuah gambaran
alam bawah sadar tentang diri kita yang sebenarnya. Walaupun kita tertidur
tetapi kita tetap memilki kesadaran yang baik, kesadaran kita akan tetap
terjaga. Dalam pendekatan psikoanalisa sering digunakan analisis mimpi untuk
menguak masalah yang sedang dihadapi, hal ini menunjukan bhawa sebuah mimpi
dapat digunakan untuk menggali rasa traumatic yang dialami oleh seseorang. Di
dunia ini banyak hal-hal atau kejadian-kejadian besar yang berasal dari sebuah
mimpi. Bahwa mimpi dapat dijadikan sebuah pemecahan masalah ketika kesadaran
kita sudah tak amapi lagi untuk berfikir. Dalam buku ini penulis mengatakan
bahwa sebenarnya kita sedang tertidur dan bermimpi. Ketika mati, kita
terbangun. Sebab kita dapat menyadari dengan gamblang bahwa pengalaman
sebelumnya hanyalah sebuah mimpi. Kematian merupakan awal dimulainya realitas
yang hakiki, tempat orang bangun dan tak dapat kembali lagi dari tidur
panjangnya.
Dalam buku ini terdapat sub bab pada
bab pertama yang berjudul “ saya bertindak dan mebuat perubahan, maka saya
ada”. Dalam sub bab ini penulis menjelaskan bahwa ujung dari sebuah keyakinan
adalah sebuah tindakan, tanpa tindakan berarti kita tak yakin. Ketika kita
meyakini bahwa kita memiliki potensi dan kempuan serta kesempatan untuk merubah
dunia ini menjadi lebih baik lagi, jangan pernah ragu untuk melakukan tindakan
meskipun kita berbeda pemikiran dari yang lainnya. Jika kita hanya berdiam diri
dan bahkan acuh dengan probema yang terjadi maka kita hanya akan menjadi
manusia yang sia-sia dan manusia yang demikian jangan pernah berharap akan
adanya perubahan dalam hidupnya.
Sebuah pemikiran yang cerdas
sekalipun tanpa adanya sebuah realisasi nyata maka pemikiran tersebut hanya
sebuah pemikiran kosong dan bahkan hanya sebuah imajinasi yang hampa.
Pengalaman dari mencoba suatu hal adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga
yang tak dapat kita dapatkan disekolah bahkan kita tak dapat meminta untuk
diajari oleh siapapun hanya diri kita yang dapat mengajrakan kita untuk
mengetahui dan merasakan sesuatu. Dalam buku ini penulis mengutip pendapat dari
Conrad Hilton (1887-1979), ia mengatakan bahwa “ sukses tampaknya selalu
berhubungan dengan tindakan. Orang sukses terus bergerak. Mereka melakukan
kesalahan-kesalahan, tetapi mereka tak pernah berhenti”. Sebuah akhir dari
pembelajaran adalah penerapannya dalam sebuah tindakan yang nyata. Lebih baik
mencoba lalu gagal dari pada tak pernah mencoba sama sekali itu menandakan anda
gagal selamanya.
Manusia adalah makhluk yang cerdas,
mereka memiliki kemampuan dalam menyebutkan nama dari sebuah benda dan mampu
untuk memfungsikan benda tersebut, hal ini tidak lepas dari campur tangan Tuhan
yang mengajarkan pada adam tentang semua itu lalu adam menurunkannya pada
keturunanya. Namun berjalannya waktu kita sebagai keturunan adam memiliki
persepsi yang berbeda-beda akan sebuah benda bahkan penyebutannya pun kadang
kala berbeda, atau penyebutannya sama tetapi memiliki arti yang berbeda.
Contohnya kata “ pipis” di daerah jawa artinya ingin buang air kecil tetapi
jika di bali itu artinya adalah uang. Jadi kesimpulannya adalah kita memiliki
persepsi yang berbeda satu sama lain untuk mengartikan suatu symbol meski sama
sekalipun.
Dalam hidupnya manusia ntidak dapat
lepas dari manusia yang lainnya. Untuk berkomunikasi dengan orang lain mereka
menggunakan sebuah bahasa yang kedua dapat saling memahami apa yang sedang
dibicarakan. Dalam buku ini penulis memberikan gambaran mengenai seberapa
penting bahasa dalam kehidupan karena dengan bahasa dapat mengartikan sebuah
symbol-simbol yang tersurat maupun tersirat dalam kehidupan dan dapat pula
menghindarkan dari perselisihan karena kesalah pahaman dalam menginterpretasikan
sebuah symbol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar