Sabtu, 28 April 2012

pentingnya komunikasi dalam keluarga


KOMUNIKASI
SEBAGAI KUNCI KEHARMONISAN KELUARGA
Di susun guna memenuhi tugas mata kuliah konseling keluarga
Dosen pengampu :



Di susun Oleh :
Ita Mujiati              1110500079
BK 4A


PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN  DAN LMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2012
BAB 1
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Kesulitan dalam keluarga pada umumnya masih sering dirahasiakan oleh para keluarga yang mengalaminya, karena mereka menganggap bahwa dengan di beberkannya masalah keluarga kepada orang lain berarti membuka rahasia pribadi. Akibatnya masalah yang menimpa keluarga kebanyakan hanya terpendam dihati keluarga yang mengalaminya, sehingga seringkali terjadi masalah keluarga itu menjadi sangat memuncak dan parah yang dapat mengakibatkan rusaknya hubungan antara anggota keluarga.
Kesulitan dalam keluarga tidak jarang pada mulanya hanya disebabkan oleh masalah-masalah kecil dan sederhana tetapi masalah itu tidak mendapatkan penyelesaian atau pemecahan, dan kemudian datanglah masalah-masalah yang lain sehingga mengakibatkan bertumpuknya masalah, yang semulanya  kecil kini menjadi kian membesar serta melebar sehingga sulit untuk diselesaikan. Penundaan pemecahan masalah dalam keluarga sehingga menjadi masalah yang kompleks hanya akan mendatangkan kerugian bagi keluarga itu sendiri bahkan dapat mengakibatkan kehancuran kebahagiaan keluarga yang dibinanya.
Adanya kegiatan bimbingan dan konseling keluarga ini karena banyaknya individu atau keluarga yang memiliki masalah dalam keluarganya. Sehingga bimbingan dan konseling ini bertujuan untuk membantu individu dalam mencegah datangnya suatu masalah, mempertahankan agar seseorang tetap pada keadaan yang telah sedemikian baik, dan membantu seseorang dalam menemukan dan memecahkan masalahnya.

B.    Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian keluarga dan komunikasi ?
2.      Kenapa kita berkomunikasi?
3.      Seberapa pentingnya komunikasi dalam keluarga?


BAB II
PEMBAHASAN
1.     Pengertian Keluarga dan komunikasi
a.   Pengertian Keluarga
Terdapat beberapa pengertian tentang keluarga yang dikemukakan oleh para ahli, seperti pendapat yang dikemukakan oleh Harton and Hunt, menurutnya keluarga adalah persekutuan antara suami istri dengan atau tanpa anak, atau laki-laki atau seorang perempuan yang telah sendirian dengan anak-anaknya. Sedangkan menurut Siti Partini berpendapat bahwa keluarga  adalah sekelompok manusia yang terdiri atas suami, istri, anak–anak (bila ada) yang terikat atau didahului dengan perkawinan. Berikutnya juga dikemukakan pengertian keluarga oleh St. Vembriarto, yaitu bahwa keluarga ialah kelompok sosial yang terdiri atas dua orang atau lebih yang mempunyai ikatan darah, perkawinan atau adopsi.
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak, baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.
b.   Pengertian Komunikasi
Menurut Johnson, 1981 mengartikan komunikasi dalam dua pemikiran yaitu dalam arti luas dan sempit. Menurutnya Komunikasi secara luas adalah setiap bentuk tingkah laku seseorang baik verbal maupun nonverbal yang ditanggapi oleh orang lain. Komunikasi yang mencakup pengertian yang lebih luas dari sekedar wawancara. Setiap bentuk tingkah laku mengungkapkan pesan tertentu, sehingga juga merupakan sebentuk komunikasi.
Sedangkan pengertian komunikasi dalam arti sempit adalah pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku si penerima. Dalam setiap bentuk komunikasi setidaknya dua orang saling mengirimkan lambang-lambang yang memiliki makna tertentu. Lambang-lambang tersebut bisa bersifat verbal berupa kata-kata atau bersifat nonverbal berupa ekspresi atau ungkapan tertentu dan gerak tubuh.
2.     Kenapa Kita Berkomunikasi
Dalam berkomunikasi dibutuhkan ruang komunikasi antar segala  sesuatu karena dengan itu kita bisa memahami sesuatu, bukan hanya dengan manusia saja,tetapi dengan sesama yang ada kita perlu berkomunikasi. Karena pada dasarnya manusia menjadi subjek hidup dengan subjek-subjek lainnya. Benda matipun tetap berkomunikasi dengan manusia karena dengan wujudnya itu merupakan suatu simbol yang membahasakan dirinya terhadap yang lain.
Komunikasi menjadi penting ketika ada sesuatu yang ingin dicapai. Tentunya dengan capaian-capaian yang baik itulah yang harus dikomunikasikan. Komunikasi bukan sekedar kata-kata, tidak hanya mengobrol, menelpon, bersenda gurau, tetapi masih banyak sekali bentuk komunikasi yang tidak kita sadari. Ternyata aktifitas-aktifitas  fisik yang kita lakukan dapat memberikan makna dan menyampaikan pesan-pesan tertentu.
Kenapa kita harus berkomunikasi? Pertanyaan itu kerap kali muncul pada diri setiap  individu. Lambat laun kita akan menyadari dari pentingnya komunikasi. Pentingnya komunikasi antara lain:
a.       Membantu perkembangan intelektual dan social kita.
Perkembangan komunikasi kita sejak kecil terjadi pertama kali didalam keluarga, dimana keluarga merupakan agen social dan komunikasi yang pertama yang terjadi pada diri anak. Perkembangan intelektual dan social kita sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi kita dengan orang lain.
b.      Identitas atau jati diri kita terbentuk dalam dan lewat komunikasi dengan orang lain. Karena selama kita berkomunikasi dengan orang lain, secara sadar maupun tidak kita mengamati dan memperhatikan semua tanggapan yang diberikan orang lain kepada kita, sehingga kita dapat menilai diri kita.
c.       Menyamakan persepsi dengan orang lain tentang realitas yang terjadi dihadapan kita. Karena semakin sama persepsi yang kita miliki dengan orang lain itu menunjukan bahwa komunikasi yang kita lakukan berjalan dengan baik.
3.      Pentingnya Komunikasi Dalam Keluarga.
Dalam kehidupan rumah tangga, komunikasi merupakan faktor penting dalam membina hubungan rumah tangga. Seorang istri harus mengerti cara berkomunikasi dengan suami, begitu pun sebaliknya. Komunikasi dalam rumah tangga tak hanya saat berbicara empat mata atau saat berkumpul dengan keluarga, pakaian dan parfum yang dipakai pun merupakan salah satu bentuk komunikasi, hal tersebut bisa menjadi pesan bagi sang suami, selain itu pasangannya pun harus pandai dalam menangkap dan menerjemahkan pesan yang diberikan. Seperti kita ketahui, tak sedikit rumah tangga yang hancur karena kurang memperhatikan faktor komunikasi. Hal ini terjadi karena seringkali dalam awal berumah-tangga, banyak pasangan yang sering mengalami perselisihan dan banyak pula dari pasangan yang baru menikah merasa belum siap untuk mengarungi hidup berumah-tangga, meskipun mereka telah lama berpacaran, hal tersebut dinamakan "Culture Shock" atau adaptasi budaya.
Komunikasi antara orang tua (suami dan istri) pada dasarnya harus terbuka. Hal tersebut karena suami-istri telah merupakan suatu kesatuan. Komunikasi yang terbuka diharapkan dapat menghindari kesalahpamahan. Dalam batas-batas tertentu sifat keterbukaan dalam komunikasi juga dilaksanakan dengan anak-anak, yaitu apabila anak-anak telah dapat berpikir secara baik, anak telah dapat mempertimbangkan secara baik mengenai hal-hal yang dihadapinya. Dengan demikian akan menimbulkan saling pengertian di antara seluruh anggota keluarga, dan dengan demikian akan terbina dan tercipta tanggung jawab sebagai anggota keluarga.
Menurut Walgito (2004:205) di samping keterbukaan dalam komunikasi, komunikasi di dalam keluarga sebaiknya merupakan komunikasi dua arah, yaitu saling memberi dan saling menerima di antara anggota keluarga. Dengan komunikasi dua arah akan terdapat umpan balik, sehingga dengan demikian akan tercipta komunikasi hidup, komunikasi yang dinamis,. Dengan komunikasi duah arah, masing-masinng pihak akan aktif, dan masing-masing pihak akan dapat memberikan pendapatnya mengenai masalah yang dikomunikasikan.
Dalam komunikasi akan lebih efektif apabila tercapai saling pemahaman, yaitu pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami oleh penerima. Secara umum proses komunikasi sekurang-kurangnya mengandung lima unsur yaitu pemberi, pesan, media, penerima, dan umpan balik.
Masalah-masalah yang timbul di dalam kehidupan antar manusia sebenarnya berakar pada kesalahpahaman pengertian dan adanya miskomunikasi. Ketika berkomunikasi seringkali terjadi kesalahan, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan sosial. Kesalahan-kesalahan dalam komunikasi pada umumnya disebabkan dua hal:
1) Terbatasnya perbendaharaan kata atau sistem simbol. Seringkali apa yang kita pikirkan atau rasakan tidak dapat kita ungkapkan dengan sempurna, karen atidak ada simbol atau kata yang tepat. Hal ini masih dapat diatasi dengan mengulang atau memperbaiki kalimat itu berulang-ulang, sampai si penerima mengerti betul maksud pengirim berita, tetapi sering juga terjadi bahwa kesempatan untuk mengulang-ulang berita ini tidak ada (misalnya dalam surat-menyurat) sehingga kesalahan komunikasi tetap saja terjadi.
2) Terbatasnya daya ingat. Hal-hal yang kita lihat, pikirkan atau rasakan, makin lama makin kabur dalam ingatan kita. Karena itu kalau hal-hal itu baru akan dikomunikasikan setelah lewat beberapa saat yang cukup lama dari saat terjadinya atau terpikirnya atau terasanya hal tersebut, maka penggambaran kita sudah tidak sempurna lagi.
Untuk itu perlu diusahakan agar komunikasi terutama di dalam keluarga perlu sesering mungkin, dan dibiasakan agar keluarga selalu memberikan berita-berita yang benar sehingga terjalin komunikasi yang baik antar masing-masing anggota di dalam keluarga. Dengan demikian di dalam diri anak akan terbiasa dengan berkomunikasi baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial.
Menurut Suhendi (2001:102), “Dengan adanya komunikasi manusia yang tadinya tidak tahu apa-apa, kemudian belajar memahami nilai yang ada dalam kelompoknya.” Untuk menjadi anggota dapat diterima di lingkungan kelompoknya, seseorang memerlukan suatu kemampuan untuk menilai objektif perilaku sendiri dalam pandangan orang lain. Apabila sudah sampai pada tingkat tersebut, seseorang sudah memiliki apa yang disebut self (diri). Self terbentuk dan berkembang melalui proses sosialisasi dengan cara berinteraksi dengan orang lain. Salah satu tanda orang yang sudah memiliki self ialah mereka yang sudah terbiasa bertindak sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek.



                


BAB III
PENUTUP
Simpulan
Keluarga merupakan agen social yang pertama bagi seorang anak untuk berkomunikasi sebelum ia berkomunikasi dengan masyarakat. Komunikasi adalah sebuah kunci dari keharmonisan dalam sebuah keluarga. Karena dengan komunikasi yang baik setiap anggota keluarga dapat mengutarakan pendapatnya dengan leluasa. Dengan adanya komunikasi yang baik pula maka setiap anggota keluarga dapat menjalankan perannya secara maksimal karena semuanya dapat terkoordinir secara baik sehingga tidak menimbulkan kekacauan di dalam keluarga.
Komunikasi antara ayah dan ibu sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikologis seorang anak. Semakin baik komunikasi antara ayah dan ibu maka seorang anak mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang maksimal. Melalui komunikasi kita juga dapat melatih rasa simpati dan empati dari setiap anggota keluarga.


 

DAFTAR PUSTAKA
http://www.melindahospital.com/modul/user/detail_artikel.php?id=373_Pentingnya-Komunikasi-Efektif-dalam-Keluarga


Tidak ada komentar:

Posting Komentar