KOMUNIKASI
SEBAGAI KUNCI KEHARMONISAN KELUARGA

Di susun guna memenuhi tugas mata kuliah
konseling keluarga
Dosen pengampu :
Di susun Oleh :
Ita Mujiati 1110500079
BK 4A
PROGRAM
STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS
KEGURUAN DAN LMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PANCASAKTI TEGAL
2012
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kesulitan dalam keluarga pada umumnya masih
sering dirahasiakan oleh para keluarga yang mengalaminya, karena mereka
menganggap bahwa dengan di beberkannya masalah keluarga kepada orang lain berarti
membuka rahasia pribadi. Akibatnya masalah yang menimpa keluarga kebanyakan
hanya terpendam dihati keluarga yang mengalaminya, sehingga seringkali terjadi
masalah keluarga itu menjadi sangat memuncak dan parah yang dapat mengakibatkan
rusaknya hubungan antara anggota keluarga.
Kesulitan dalam keluarga tidak jarang pada
mulanya hanya disebabkan oleh masalah-masalah kecil dan sederhana tetapi
masalah itu tidak mendapatkan penyelesaian atau pemecahan, dan kemudian
datanglah masalah-masalah yang lain sehingga mengakibatkan bertumpuknya
masalah, yang semulanya kecil kini
menjadi kian membesar serta melebar sehingga sulit untuk diselesaikan. Penundaan
pemecahan masalah dalam keluarga sehingga menjadi masalah yang kompleks hanya
akan mendatangkan kerugian bagi keluarga itu sendiri bahkan dapat mengakibatkan
kehancuran kebahagiaan keluarga yang dibinanya.
Adanya kegiatan bimbingan dan konseling keluarga
ini karena banyaknya individu atau keluarga yang memiliki masalah dalam
keluarganya. Sehingga bimbingan dan konseling ini bertujuan untuk membantu
individu dalam mencegah datangnya suatu masalah, mempertahankan agar seseorang
tetap pada keadaan yang telah sedemikian baik, dan membantu seseorang dalam
menemukan dan memecahkan masalahnya.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian keluarga dan komunikasi ?
2. Kenapa
kita berkomunikasi?
3. Seberapa
pentingnya komunikasi dalam keluarga?
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Keluarga dan komunikasi
a.
Pengertian
Keluarga
Terdapat beberapa pengertian
tentang keluarga yang dikemukakan oleh para ahli, seperti pendapat yang
dikemukakan oleh Harton and Hunt, menurutnya keluarga adalah persekutuan antara
suami istri dengan atau tanpa anak, atau laki-laki atau seorang perempuan yang
telah sendirian dengan anak-anaknya. Sedangkan menurut Siti Partini berpendapat
bahwa keluarga adalah sekelompok manusia
yang terdiri atas suami, istri, anak–anak (bila ada) yang terikat atau
didahului dengan perkawinan. Berikutnya juga dikemukakan pengertian keluarga
oleh St. Vembriarto, yaitu bahwa keluarga ialah kelompok sosial yang terdiri
atas dua orang atau lebih yang mempunyai ikatan darah, perkawinan atau adopsi.
Berdasarkan pengertian diatas
maka dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup
atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup
bersama atau seorang laki-laki atau perempuan yang sudah sendirian dengan atau
tanpa anak-anak, baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal dalam sebuah
rumah tangga.
b.
Pengertian
Komunikasi
Menurut Johnson, 1981 mengartikan komunikasi
dalam dua pemikiran yaitu dalam arti luas dan sempit. Menurutnya Komunikasi
secara luas adalah setiap bentuk tingkah laku seseorang baik verbal maupun
nonverbal yang ditanggapi oleh orang lain. Komunikasi yang mencakup pengertian
yang lebih luas dari sekedar wawancara. Setiap bentuk tingkah laku
mengungkapkan pesan tertentu, sehingga juga merupakan sebentuk komunikasi.
Sedangkan pengertian komunikasi dalam arti
sempit adalah pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima
dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku si penerima. Dalam setiap
bentuk komunikasi setidaknya dua orang saling mengirimkan lambang-lambang yang
memiliki makna tertentu. Lambang-lambang tersebut bisa bersifat verbal berupa
kata-kata atau bersifat nonverbal berupa ekspresi atau ungkapan tertentu dan
gerak tubuh.
2. Kenapa
Kita Berkomunikasi
Dalam berkomunikasi dibutuhkan ruang komunikasi
antar segala sesuatu karena dengan itu
kita bisa memahami sesuatu, bukan hanya dengan manusia saja,tetapi dengan sesama
yang ada kita perlu berkomunikasi. Karena pada dasarnya manusia menjadi subjek
hidup dengan subjek-subjek lainnya. Benda matipun tetap berkomunikasi dengan
manusia karena dengan wujudnya itu merupakan suatu simbol yang membahasakan
dirinya terhadap yang lain.
Komunikasi menjadi penting ketika ada sesuatu
yang ingin dicapai. Tentunya dengan capaian-capaian yang baik itulah yang harus
dikomunikasikan. Komunikasi bukan sekedar kata-kata, tidak hanya mengobrol,
menelpon, bersenda gurau, tetapi masih banyak sekali bentuk komunikasi yang
tidak kita sadari. Ternyata aktifitas-aktifitas fisik yang kita lakukan dapat memberikan makna
dan menyampaikan pesan-pesan tertentu.
Kenapa kita harus berkomunikasi? Pertanyaan itu
kerap kali muncul pada diri setiap
individu. Lambat laun kita akan menyadari dari pentingnya komunikasi.
Pentingnya komunikasi antara lain:
a. Membantu
perkembangan intelektual dan social kita.
Perkembangan
komunikasi kita sejak kecil terjadi pertama kali didalam keluarga, dimana
keluarga merupakan agen social dan komunikasi yang pertama yang terjadi pada
diri anak. Perkembangan intelektual dan social kita sangat ditentukan oleh
kualitas komunikasi kita dengan orang lain.
b. Identitas
atau jati diri kita terbentuk dalam dan lewat komunikasi dengan orang lain.
Karena selama kita berkomunikasi dengan orang lain, secara sadar maupun tidak
kita mengamati dan memperhatikan semua tanggapan yang diberikan orang lain
kepada kita, sehingga kita dapat menilai diri kita.
c. Menyamakan
persepsi dengan orang lain tentang realitas yang terjadi dihadapan kita. Karena
semakin sama persepsi yang kita miliki dengan orang lain itu menunjukan bahwa
komunikasi yang kita lakukan berjalan dengan baik.
3. Pentingnya
Komunikasi Dalam Keluarga.
Dalam kehidupan rumah tangga, komunikasi merupakan faktor penting
dalam membina hubungan rumah tangga. Seorang istri harus mengerti cara
berkomunikasi dengan suami, begitu pun sebaliknya. Komunikasi dalam rumah
tangga tak hanya saat berbicara empat mata atau saat berkumpul dengan keluarga,
pakaian dan parfum yang dipakai pun merupakan salah satu bentuk komunikasi, hal
tersebut bisa menjadi pesan bagi sang suami, selain itu pasangannya pun harus
pandai dalam menangkap dan menerjemahkan pesan yang diberikan. Seperti kita
ketahui, tak sedikit rumah tangga yang hancur karena kurang memperhatikan
faktor komunikasi. Hal ini terjadi karena seringkali dalam awal berumah-tangga,
banyak pasangan yang sering mengalami perselisihan dan banyak pula dari
pasangan yang baru menikah merasa belum siap untuk mengarungi hidup berumah-tangga,
meskipun mereka telah lama berpacaran, hal tersebut dinamakan "Culture
Shock" atau adaptasi budaya.
Komunikasi antara orang tua (suami dan istri) pada dasarnya harus
terbuka. Hal tersebut karena suami-istri telah merupakan suatu kesatuan. Komunikasi
yang terbuka diharapkan dapat menghindari kesalahpamahan. Dalam batas-batas
tertentu sifat keterbukaan dalam komunikasi juga dilaksanakan dengan anak-anak,
yaitu apabila anak-anak telah dapat berpikir secara baik, anak telah dapat
mempertimbangkan secara baik mengenai hal-hal yang dihadapinya. Dengan demikian
akan menimbulkan saling pengertian di antara seluruh anggota keluarga, dan
dengan demikian akan terbina dan tercipta tanggung jawab sebagai anggota
keluarga.
Menurut Walgito (2004:205) di samping keterbukaan dalam komunikasi,
komunikasi di dalam keluarga sebaiknya merupakan komunikasi dua arah, yaitu
saling memberi dan saling menerima di antara anggota keluarga. Dengan
komunikasi dua arah akan terdapat umpan balik, sehingga dengan demikian akan tercipta
komunikasi hidup, komunikasi yang dinamis,. Dengan komunikasi duah arah,
masing-masinng pihak akan aktif, dan masing-masing pihak akan dapat memberikan
pendapatnya mengenai masalah yang dikomunikasikan.
Dalam komunikasi akan lebih efektif apabila tercapai saling
pemahaman, yaitu pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami oleh
penerima. Secara umum proses komunikasi sekurang-kurangnya mengandung lima
unsur yaitu pemberi, pesan, media, penerima, dan umpan balik.
Masalah-masalah yang timbul di dalam kehidupan antar manusia sebenarnya
berakar pada kesalahpahaman pengertian dan adanya miskomunikasi. Ketika
berkomunikasi seringkali terjadi kesalahan, baik dalam keluarga maupun dalam
kehidupan sosial. Kesalahan-kesalahan dalam komunikasi pada umumnya disebabkan
dua hal:
1) Terbatasnya perbendaharaan kata atau sistem simbol. Seringkali
apa yang kita pikirkan atau rasakan tidak dapat kita ungkapkan dengan sempurna,
karen atidak ada simbol atau kata yang tepat. Hal ini masih dapat diatasi
dengan mengulang atau memperbaiki kalimat itu berulang-ulang, sampai si
penerima mengerti betul maksud pengirim berita, tetapi sering juga terjadi
bahwa kesempatan untuk mengulang-ulang berita ini tidak ada (misalnya dalam
surat-menyurat) sehingga kesalahan komunikasi tetap saja terjadi.
2) Terbatasnya daya ingat. Hal-hal yang kita lihat, pikirkan atau
rasakan, makin lama makin kabur dalam ingatan kita. Karena itu kalau hal-hal
itu baru akan dikomunikasikan setelah lewat beberapa saat yang cukup lama dari
saat terjadinya atau terpikirnya atau terasanya hal tersebut, maka penggambaran
kita sudah tidak sempurna lagi.
Untuk itu perlu diusahakan agar komunikasi terutama di dalam
keluarga perlu sesering mungkin, dan dibiasakan agar keluarga selalu memberikan
berita-berita yang benar sehingga terjalin komunikasi yang baik antar
masing-masing anggota di dalam keluarga. Dengan demikian di dalam diri anak
akan terbiasa dengan berkomunikasi baik dalam lingkungan keluarga maupun
lingkungan sosial.
Menurut Suhendi (2001:102), “Dengan adanya komunikasi manusia yang
tadinya tidak tahu apa-apa, kemudian belajar memahami nilai yang ada dalam
kelompoknya.” Untuk menjadi anggota dapat diterima di lingkungan kelompoknya,
seseorang memerlukan suatu kemampuan untuk menilai objektif perilaku sendiri
dalam pandangan orang lain. Apabila sudah sampai pada tingkat tersebut,
seseorang sudah memiliki apa yang disebut self (diri). Self
terbentuk dan berkembang melalui proses sosialisasi dengan cara berinteraksi
dengan orang lain. Salah satu tanda orang yang sudah memiliki self
ialah mereka yang sudah terbiasa bertindak sebagai subjek dan sekaligus sebagai
objek.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Keluarga merupakan agen social
yang pertama bagi seorang anak untuk berkomunikasi sebelum ia berkomunikasi
dengan masyarakat. Komunikasi adalah sebuah kunci dari keharmonisan dalam
sebuah keluarga. Karena dengan komunikasi yang baik setiap anggota keluarga
dapat mengutarakan pendapatnya dengan leluasa. Dengan adanya komunikasi yang
baik pula maka setiap anggota keluarga dapat menjalankan perannya secara
maksimal karena semuanya dapat terkoordinir secara baik sehingga tidak
menimbulkan kekacauan di dalam keluarga.
Komunikasi antara ayah dan ibu
sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikologis seorang
anak. Semakin baik komunikasi antara ayah dan ibu maka seorang anak mencapai
pertumbuhan dan perkembangan yang maksimal. Melalui komunikasi kita juga dapat
melatih rasa simpati dan empati dari setiap anggota keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.melindahospital.com/modul/user/detail_artikel.php?id=373_Pentingnya-Komunikasi-Efektif-dalam-Keluarga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar